Tak Harus Suci Untuk Menasehati

Tak Harus Suci Untuk Menasehati





“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.”
(QS. Al-‘Asr [103] : 1-3)
Semua manusia pada dasarnya suci sejak saat dilahirkan. Tuhan menciptakan manusia dengan segala kekurangan dan kelebihannya berawal dari kesucian. Hingga akhirnya proses kehidupan berpengaruh dalam “mengurangi” kesucian itu. Iya, kesucian hati semakin berkurang seiring bertambahnya kesalahan dan kemaksiatan. Adakah manusia yang tanpa salah? Tidak ada. Adakah manusia yang tidak memiliki kekurangan? Tidak ada. Manusia dengan segala kekurangan dan kesalahanpun masih dapat menyombongkan diri, bagaimana tidak memiliki kedua hal ini? Manusia sebagai makhluk sosial tentunya tak dapat hidup sendiri, manusia diciptakan berbeda agar dapat saling melengkapi. Bukan justru saling menjatuhkan hanya karena melihat orang lain dari sisi kurangnya dan memandang diri sendiri dari sisi lebihnya.
Kekurangan dan kesalahan merupakan hal yang wajar, karena itulah manusia diperintahkan untuk saling memaafkan dan mengingatkan. Mengingatkan dalam hal kebajikan, mengajak untuk menjauhi keburukan. Bisa dalam bentuk sikap teladan ataupun ajakan. Masalahnya tidak semua orang yang diajak “rela” untuk diingatkan. “Jangan sok bener deh nasehatin orang”, “Jangan sok suci deh ngelarang-larang orang maksiat”. Ada yang berpendapat seperti kalimat demikian? Ada. Lalu, apa kaitannya suci dengan melarang kemaksiatan? Apakah harus suci untuk mengajak berbuat baik? Apakah harus suci untuk menolak kemungkaran? Apakah harus suci untuk memberikan nasehat? Jika setiap orang harus suci untuk menasehati, maka takkan ada orang yang mengajak kepada kebaikan karena merasa dirinya tidak suci. Tidak ada kritikan maupun saran karena setiap orang merasa tak sempurna dan tak ingin dianggap sok suci.
Rasul banyak memberi nasehat dan melarang kemaksiatan, apa berarti beliau sok suci? tentu tidak. Tapi beliau seorang Rasul berbeda dengan umatnya. Justru karena kita umatnya sepantasnyalah meniru beliau dalam mengajak pada kebaikan. Amar ma’ruf nahi mungkar yang berarti mengajak kepada kebaikan dan mengingkari kemungkaran sebuah prinsip yang mestinya diterapkan oleh tiap individu. Tentu dengan cara-cara dan perkataan yang baik serta diimbangi pula dengan akhlak dan amalan kita yang baik. Bagaimana jika ada orang memberi nasehat justru malah merendahkan atau meremehkan orang lain? Ambil baiknya buang buruknya dan tak perlu ikut-ikutan bersikap seperti itu, kalau perlu beri nasehat orang itu secara baik-baik.
“Barang siapa melihat kemungkaran maka rubahlah dengan tangan, jika tidak mungkin maka dengan lisan, jika tidak mungkin maka dengan hati, dan itulah selemah-lemahnya iman.”
(HR. Muslim)
Tak sedikit pula orang mencegah kemaksiatan dianggap munafik. Misalnya ketika menolak tayangan-tayangan pornografi di televisi. Ya tidak jauh kalau lelaki yang menolak akan disebut munafik. Kalau melarang yang diharamkan disebut munafik, bagaimana dengan pihak yang membolehkan bahkan menghalalkan yang diharamkan? Tidak dapat dipungkiri manusia memang memiliki sisi negatif, terlebih pria jika terkait urusan syahwat. Namun tak berarti karena kodrat pria yang memiliki syahwat lebih, malah membiarkan syahwat itu liar tak terkendali.  Allah memerintahkan manusia untuk mencegah kemungkaran bukan untuk menjadi munafik. Justru banyak orang munafik yang tak rela kemungkaran itu dicegah dan malah mencegah ajakan kepada kebaikan.
Tidak lupa pula bagi yang menasehati untuk mengoreksi dan menasehati diri sendiri. Jangan mengajak shalat tapi diri sendiri meninggalkan shalat. Tetaplah berbenah diri sambil menasehati diri. Tapi bukan berarti yang dinasehati menolak mentah-mentah nasehat orang lain hanya karena merasa yang menasehati tak lebih baik dari isi nasehatnya. Lihat apa yang disampaikan, bukan siapa yang menyampaikan. Sekalipun pelacur mengajak bersedekah, tidak merubah kegiatan bersedekah menjadi hal yang buruk. Sekalipun ada public figure yang berzina, tidak membuat zina itu menjadi hal yang baik apalagi layak ditiru. Jika bertemu orang yang mengajak kebaikan tapi caranya tak baik atau dia berakhlak buruk, doakan saja agar orang itu menjadi lebih baik atau nasehati dengan baik juga tanpa menghujat ajakan baiknya. Kalau tak mampu berbuat baik setidaknya jangan berbuat buruk.  Jika tak ingin diajak kepada kebaikan setidaknya jangan mengajak pada keburukan atau mencegah ajakan kebaikan.
“Orang yang paling aku sukai adalah dia yang menunjukkan kesalahanku”
— Umar bin Khattab
Sebijak apapun manusia tetap membutuhkan nasehat. Seburuk apapun manusia tidak ada larangan untuk menasehati orang lain selama tak lupa untuk terus memperbaiki diri. Nasehat terbaik datang dari Allah dan Rasul-Nya. Tentu baik pula untuk menyampaikan nasehat-nasehat berharga-Nya kepada orang di sekitar dan kepada diri sendiri khususnya. Jika ada orang yang menolak atau membangkang saat dinasehati, bisa jadi karena cara kita yang tak tepat. Mungkin juga itu teguran dari Allah bagi kita untuk menasehati diri sendiri selain menasehati orang lain. Saya sendiri masih jauh dari pribadi yang baik dan terus berharap untuk mendapatkan nasehat yang membangun dari kawan-kawan. Semoga kita selalu dalam nasehat dan bimbingan-Nya. Amin ya rabbal ‘alamin.
“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang mungkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”
(QS. At-Taubah [9] : 71)
Name

berita aswaja,1,Download Sholawat Mp3,3,Fadilah Ibadah,5,fiqh pemuda,1,Lirik Sholawat,61,Nasihat,38,pilihan,47,Sholawat,12,
ltr
item
Haedar Alwi Assegaf: Tak Harus Suci Untuk Menasehati
Tak Harus Suci Untuk Menasehati
Tak Harus Suci Untuk Menasehati
https://1.bp.blogspot.com/-m4rpTZNQ4qU/XWP23T76HoI/AAAAAAAACOY/q7tzh7Ve56ECtoPKg57cgEdSGMHNYam9wCLcBGAs/s320/e52fdaaf5001c4f7cef685de81a6e71d.jpg
https://1.bp.blogspot.com/-m4rpTZNQ4qU/XWP23T76HoI/AAAAAAAACOY/q7tzh7Ve56ECtoPKg57cgEdSGMHNYam9wCLcBGAs/s72-c/e52fdaaf5001c4f7cef685de81a6e71d.jpg
Haedar Alwi Assegaf
http://www.haedaralwi.com/2017/01/tak-harus-suci-untuk-menasehati.html
http://www.haedaralwi.com/
http://www.haedaralwi.com/
http://www.haedaralwi.com/2017/01/tak-harus-suci-untuk-menasehati.html
true
7563302397325140630
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share to a social network STEP 2: Click the link on your social network Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy